Playing Victim

Pradirwan - Istilah "playing victim" ini tiba-tiba saja muncul menemani hariku. Ia seolah menjadi trending topik hari ini di obrolan ngalor-ngidul. Obrolan tentang mereka yang sehari-hari berprofesi BUKAN bintang film atau sinetron namun aktingnya sungguh memukau. Bahkan saking pandainya bermain peran, hampir seluruh dunia percaya bahwa aktingnya tersebut seolah-olah realitas. Sungguh sangat menakjubkan.

Teknik Playing Victim saat ini sudah sering kali saya temui baik oleh mereka yang benar-benar pesohor negeri ini maupun yang bukan. Mereka biasanya saat diwawancara akan memasang muka tegar sambil sedikit memelas.

Saat bertemu teman, yang dibicarakan hanya betapa sengsaranya ia, betapa jahat bosnya, betapa repot kerjaannya, betapa rewel pasangannya, dan lain-lain. Macam-macam pokoknya.

Parahnya lagi, kalau temannya juga setipe dengannya. Setelah mendengarkan curhat temannya itu, ia justru berkata, “Ah, kamu sih mending. Bosku/pasanganku/kerjaanku lebih parah dari itu”. Kemudian, ia ikutan ngeluh tentang hidupnya plus ditambahi efek-efek dramatis agar kedengarannya hidupnya jauh lebih menderita dari temannya itu.

Mereka mengucapkan kalimat-kalimat itu dengan tenang, entah apakah karena ia paham betul akan ucapan yang dikeluarkannya atau memang ia sadar kalau dirinya tengah bersandiwara.

Ada yang tahu apa itu "playing victim"? Atau barangkali pernah mendengar istilah tersebut?

Sedikit saya coba jelaskan. Maaf jika ada yang kurang pas.

Playing Victim merupakan suatu cara yang dilakukan oleh seseorang yang membuat dirinya seolah-olah adalah korban atau pihak yang selalu ditindas, minoritas, merasa selalu difitnah dan diserang oleh pihak yang lain dengan tujuan agar mendapatkan simpati dari banyak orang sekaligus melempar kesalahan atau tanggung jawab kepada pihak lain.

Tujuan bermain Playing Victim adalah mengarahkan opini banyak orang agar menyalahkan orang / kelompok lain seolah-olah menjadi penyebab si tokoh pemain Victim adalah orang baik dan benar yang tertindas oleh orang banyak dan jahat.

Licik bukan? Ya, begitulah. Para player bukanlah aktor ataupun artis papan atas namun akting dan skenario mereka mampu memukau dunia, memanfaatkan rasa simpati orang banyak, menciptakan sebuah kondisi gaduh dan memikat perhatian banyak orang.

Parahnya, yang menjadi korban dengan mempercayai akting para player ini banyak. Dan tak jarang akibat sudah percaya, keluar rasa simpati dan ingin memberikan bantuan. Tak jarang keluar bantuan dalam bentuk materi dengan jumlah relatif besar. Jika sudah begini, player sudah layak naik level sebagai penipu ulung.

Saya, bahkan mungkin Anda pernah juga playing victim. Seberapa sering dan besar efek yang ditimbulkan akibat perbuatan playing victim ini? Silakan direnungkan?

Lalu apakah ini diperbolehkan dalam ajaran agama? Menurut saya, tidak. Playing Victim sama saja dengan berbohong atau menipu. Berbuat tidak sesuai antara ucapan, tindakan, dan kenyataan.

Lalu, akankah kita tetap bermain sebagai korban?

Pradirwan
1112

No comments