BREAKING NEWS

Legenda Baridin Suratminah, Kisah Cinta Berujung Duka

Cover kaset Baridin (sumber: history of Cirebon)


Pradirwan - Bagi masyarakat Cirebon dan sekitarnya, cerita cinta Baridin dan Ratminah tentu tak asing lagi. Legenda yang dipopulerkan oleh Maestro Tarling, H. Abdul Adjib, pada tahun 1980-an itu hingga kini masih mengakar di hati masyarakat Cirebon. 

H. Abdul Adjib (sumber: history of Cirebon)

Legenda ini pertama kali saya dengar sekitar tahun 1990-an. Totalnya ada 4 kaset pita coklat yang disetel di mini compo. Semalam, tetangga saya, mang Sunadi menceritakan lagi kisah ini.

Mang Sunadi

Lakon ini berawal dari sosok pemuda bernama Baridin yang hidup miskin bersama ibunya, Mbok Wangsih. Mereka hidup dengan menjadi buruh tani.

Saat memanggul weluku (garu), sejenis alat yang digunakan petani zaman dulu untuk membajak atau mengolah tanah sawah, Baridin bertemu dengan putri cantik dari keluarga kaya bernama Suratminah (Ratminah). Pemuda miskin itu jatuh hati kepada anak semata wayang Bapak Dam.

Baridin lalu meminta ibunya melamar gadis itu untuk menjadi pendamping hidupnya. Perbedaan status sosial yang mencolok membuat Mbok Wangsih ragu. Namun Baridin mengancam akan bunuh diri jika sampai ibunya tidak mau menuruti kehendaknya.

Mbok Wangsih akhirnya mendatangi rumah Bapa Dam dengan berbekal sarung kumal dan pisang sebagai barang hantaran untuk melamar Ratminah.

Ratminah dan Bapak Dam pun tegas menolak lamaran itu. Gadis cantik dan kaya mana yang mau di peristri oleh bujang lapuk, miskin, dan dekil? Begitulah gambaran penolakan Ratminah untuk diperisitri oleh Baridin.

Tak hanya penolakan yang diterima Mbok Wangsih setelah menyampaikan maksud kedatangannya. Perempuan tua itu mendapat perlakuan tak manusiawi. Ia diusir, dimaki-maki, dipukul, dan diludahi.

Mbok Wangsih tetap sabar dan legowo dengan penolakan itu. Namun, perlakuan keluarga kaya itu terhadap Mbok Wangsih membuat Baridin marah besar sekaligus merasa bersalah pada ibunya.
Hinaan itulah yang membuat Baridin sakit hati. Pemuda itu bertekad kuat untuk membalas sakit hatinya dengan cara yang menggegerkan Cirebon.

Baridin kemudian menemui sahabatnya, Gemblung. Dia sampaikan tekadnya untuk menaklukkan hati Ratminah

Baridin memilih jalan setan dengan belajar ilmu guna-guna berupa ajian Kemat Jaran Goyang, tentu dengan syarat yang tak mudah. Dia harus berpuasa mati geni selama 40 hari 40 malam tanpa makan.

Tepat di hari ke-40, benar saja, Ratminah tiba-tiba teringat pemuda yang dulu ditolaknya itu. Dari bibirnya selalu memanggil-mangil nama Baridin. Ia menjadi sangat tergila-gila kepada lelaki miskin dan dekil itu. 

Suratminah bahkan berteriak-teriak, menangis, dan memohon kepada bapaknya agar dinikahkan dengan Baridin. Suratminah gila. 

Sebagai seorang duda kaya yang hanya memiliki anak satu-satunya, Bapak Dam tidak menginginkan hal-hal buruk terjadi pada anaknya, dia lantas menuruti kehendak anaknya.

Bapak Dam dan Ratminah pergi menemui Baridin untuk menikahkan mereka berdua. Namun Baridin sudah terlanjur sakit hati atas penolakan dirinya dan hinaan pada ibunya. Pemuda itu membalas sakit hatinya dengan menolak cinta Ratminah.

Hati Ratminah pun hancur. Ia meninggal dunia. Tak berapa lama, Baridin pun meninggal. Kematian Baridin disebabkan rasa sakit hati yang mendalam ditambah rasa lapar yang menusuk karena selama 40 hari 40 malam dia tidak makan.

Sementara itu, Mbok Wangsih hari-harinya diiputi kesedihan karena kehilanggan anak semata wayang yang menafkahinya.

Demikian pula dengan Bapak Dam yang hari-harinya diliputi dengan penyesalan dan kehilangan.

Hingga pada akhirnya, kedua orang tua meninggal dengan perasaan duka yang mendalam.

Makam Baridin dan Suratminah (sumber: History of Cirebon)

Konon, Baridin dan Suratminah dimakamkan beriringan di desa Gegesik Kecamatan Jagapura Kabupaten Cirebon. (*)

Share this:

Post a Comment

 
Copyright © 2021 Pradirwan and OddThemes