BREAKING NEWS

Obituari: Nyanyian Sunyi Kampung Kami

Obituari: Nyanyian Sunyi Kampung Kami

Pradirwan
- Guratan senja kali ini lebih menyerupai lukisan nestapa. Deru suara kendaraan yang melintasi deretan gedung tua di kawasan Asia Afrika seolah mendadak sunyi. Seperti ada yang merenggut paksa dan menghempaskanku ke lubang yang lebih kelam daripada kelir malam, dan suara rintik hujan lebih menyerupai jarum kepedihan.

Telepon genggamku berdering. Nomor Aunty, namun seseorang di seberang sana bukanlah Aunty. Ia bercerita, bahwa kakak ipar ibu mertuaku telah pergi. Sontak kabar yang tak baik itu membuatku hilang fokus beberapa saat.

 

Saya tidak pernah tahu jika yang lebih menyakitkan bukan menghadapi kematian, melainkan menghadapi kehidupan. Kenyataan menjadi begitu sulit untuk diterima nalar. Dan induk dari segala sunyi perlahan menyambangi.

Aku memang berniat untuk pulang sore tadi. Tapi bukan untuk bertakziah. Kenyataan kembali berbeda dengan yang pernah aku rencanakan.

Sebelum cahaya sore tadi benar-benar lenyap. Sebelum semua pertanyaan di dalam kepala ini terjawab. Sebelum semua itu bergulir, bolehkah aku bercerita?

***

Sebuah tenda biru berdiri di halaman sebuah rumah bercat putih di kampung Imba, Desa Wangunharja, Jamblang, Cirebon, Selasa malam, 31/12/2019. Beberapa warga berkumpul di teras beralaskan tikar dan jejeran kursi plastik berwarna hijau.

Di salah satu sudut ruangan, sosok laki-laki berusia 50-an tahun itu terbaring ditutupi kain. "Mamang meninggal saat kami membawanya ke Rumah Sakit (RS)," ucap Hileud.

Ayah dua orang anak itu 'memaksa' membawa Mamang ke RS. "Mamang selalu merasa baik-baik saja. Padahal saya menduga, kondisinya tidak seperti itu," katanya.

Dugaan itu beralasan. Pasalnya, istri Hileud bercerita, Mamang dari kemarin (Senin, 30/12) sulit makan. Bahkan, ia menyaksikan Mamang sudah semakin sulit bernafas.

"Sudah diperiksa dokter. Saya habiskan dulu saja obatnya. Besok juga membaik," tutur Hileud menirukan ucapan Mamang.

Hileud tak menghiraukan alasan itu. Ia terus membujuk ayah mertuanya itu. Dihubunginya saudara dan tetangga yang ada kendaraan. "Bahkan, Mamang tidak mau digotong. Dia berjalan sendiri ke mobil," kenangnya.

Sehari sebelumnya, Hileud yang sedang merantau seperti punya firasat. Dia mendadak ingin sekali pulang. Kesedihan atas goresan duka nampak menyelimutinya. "Yang membuat saya sulit melupakan, Mamang menitipkan cucu-cucunya kepada saya. Ternyata, ini amanah terakhirnya," pungkas Hileud.

***

Hampir sebulan lalu aku baru bertemu dengannya. Tak kusangka, itu akan menjadi pertemuan kami yang terakhir.

Entah kenapa, di hari itu mulutku yang biasanya lancar kali ini bingung hendak berkata. Tak ada ucapan berarti yang saling bersautan antara kita. Hari itu, terakhir kali aku melihat wajah dan senyum khasnya.

Darinya aku belajar tentang kehidupan. Aku mendidik hati untuk menerima. Meyakini bahwa Tuhan sedang menyiapkan yang terbaik dari atas sana.

"Berhenti mengasihani diri sendiri, berhenti menyalahkan sekitar. Pelan tapi pasti, kita harus memaafkan apa yang terjadi."

Innalillahi wa inna ilaihi raji'uun.

Selamat kembali kepada Sang Pemilik jiwa dan raga. Semoga kepergiannya husnul khotimah.


Allahumaghfirlahu warhamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu.... Aamiin...




Pradirwan

Bandung, 31 Desember 2019

Share this:

Post a Comment

 
Copyright © 2021 Pradirwan and OddThemes