Sepotong Sore di Pantura

PradirwanKisah ini, ku tulis kembali. Bukan untuk membuka luka. Hanya mengabadikan kenangan. 
Mari sejenak kita mengingat kenangan lama. Kenangan yang pernah terbungkus indah. Meski kini tak kan pernah lagi sama.
Aku akan tetap ada disini dengan semua kenangan yang kau tinggalkan. 
***
sepotong sore di Pantura
“Brak!”
Dentuman itu terdengar dari motor yang semula melaju cukup kencang, dan berakhir dengan menabrak mobil pengangkut botol minuman yang terparkir di sisi jalan menuju sebuah SMK Negeri di daerah Cirebon. Ketiga remaja sekira 17 tahun pengendara sepeda motor tersebut jatuh. Mereka terpelanting dan tak sadarkan diri. Beberapa orang yang sedang di lokasi kejadian datang menolong dan membawa ketiganya ke rumah sakit terdekat.
Hasil rontgent menyatakan Ardhi menderita patah tulang pergelangan tangan kiri. Kedua temannya lebih parah. Beberapa hari berselang, Ardhi diizinkan pulang meski tetap harus beristirahat di rumah. Setidaknya, ia sudah terbebas dari suasana rumah sakit yang membosankan. Di kamarnya, di atas pembaringan berkelambu biru, Ardhi merenung. Kecelakaan itu hampir membuatnya kehilangan nyawa.
Dari balik dinding kamar, terdengar sayup-sayup suara perempuan. Benar saja, seorang gadis berbaju batik dengan kerudung merah membuka pintu kamar. Ia langsung memeluk dengan tangis yang pecah seketika. Seisi rumah hanya diam menyaksikan.
“Maafkan Nok, Ang,” gadis itu berkata sembari terisak, “karena Nok, Aang jadi begini. Aang jauh-jauh ke Losari hanya untuk menemui Nok, tapi sepulangnya jadi begini.”
Air mata si gadis semakin deras membasahi dada Ardhi. Ardhi bangkit dan menatap wajah si gadis. Tangan kanannya menyeka air mata yang mengalir di pipi gadis itu.
“Ini bukan salahmu, Nok Aya. Tegarkan hatimu. Aku tahu kau perempuan tegar, perempuan hebat dan sempurna. Tak perlu menyesali apa yang telah terjadi. Semua terjadi karena kelalaian Aang sendiri. Aang meminjam motor untuk ke kota padahal belum cakap. Terlebih berbonceng tiga. Syukurlah Aang hanya patah pergelangan tangan, kejadian lebih parah menimpa teman-teman Aang.”
Isak Nok Aya sedikit mereda. Kebisuan seisi rumah mulai mencair. Justru Ardhi penasaran, siapa yang memberikan kabar kecelakaan itu kepada gadisnya?
***
Ardhi menatap anak laki-laki sebayanya yang tampak lusuh. Baju seragamnya hampir tak kelihatan lagi warna putihnya, bahkan cenderung abu-abu atau kecoklatan. Tanah di tempat tinggal Suheri, nama anak laki-laki itu, berdebu dan hitam. Pun air sumurnya kecoklatan khas air tanah di pesisir Losari. Sebagai seorang sahabat, Ardhi kerap mengunjungi Suheri di Kalimati, sebuah desa kecil di perbatasan antara Cirebon dan Brebes.
Satu yang berbeda dari kunjungannya kali itu adalah, memori masa kecil kembali menyeruak di kepala Ardhi sepulang dari rumah Suheri.
***
Ardhi dan Nok Aya pernah bertetangga di salah satu desa di kecamatan Jamblang, Cirebon. Persahabatan orang tua mereka yang berlangsung sejak lama, membuat muda-mudi itu juga ikut berbagi suka-duka masing-masing. Kedua ibu mereka tak sungkan bertukar cerita, terlebih ketika mengetahui mereka hamil dan akan melahirkan di saat yang hampir bersamaan. Tentang usia kehamilan, keluhan sakit sepanjang masa kehamilan, perubahan ukuran perut, hingga menebak-nebak jenis kelamin bayi yang mereka kandung. USG belum masuki kampong mereka.
Kebahagiaan dua keluarga semakin lengkap setelah dua bocah mungil itu lahir. 11 Desember tujuh belas tahun lalu, Ardhi lahir. Hanya berselang beberapa jam, 12 Desember, Nok Aya lahir. Ditengah kehangatan dua keluarga itu pula, Ardhi dan Nok Aya tumbuh bersama. Penuh cinta kasih dan kebahagiaan. Meski tak ada hubungan darah, Ardhi menganggap Nok Aya lebih dari adiknya. Mereka seolah ditakdirkan selalu bersama.
Hingga suatu ketika, mereka terpisah karena harus melanjutkan pendidikan. Ardhi ke SMP (dulu SLTP) Negeri, Nok Aya ke MTs. Takdir seolah memperlebar jarak mereka. Keduanya semakin jarang bertemu. Satu-satunya kesempatan hanyalah saat Maghrib hingga Isya, mereka berdua salat berjamaah dan belajar mengaji di masjid desa tak jauh dari rumah mereka. Namun, kabar perjodohan mereka akhirnya tersiar bahkan sebelum yang dijodohkan tahu.
“Nak, dulu saat sama-sama mengandung, aku dan ibu Nok Aya pernah sama-sama berjanji. Jika kalian lahir sejodoh laki-laki dan perempuan, kami sepakat menikahkan kalian saat sudah dewasa. Namun, jika sama-sama laki-laki atau perempuan, kalian harus menjadi saudara layaknya saudara kandung,” cerita ibu Ardhi.
Baragkali beberapa cerita cinta memang tak hanya membutuhkan kebiasaan. Yang jelas, sejak cerita ibu Ardhi, benih-benih perasaan sebagai kekasih mulai tumbuh di hati keduanya. Juga takut akan kehilangan dan rindu dendam. Hampir setiap malam, mereka kembali semakin sering bertemu. Saat belajar mengaji, membahas PR, atau hanya sekedar mengobrol di teras rumah.
***
“Ang, besok keluarga Nok pindah ke Losari,”kata Nok Aya malam itu membuat Ardhi terperangah.
“Kok mendadak begitu, ada apa?”
“Di sana orang tua Nok akan memulai usaha baru, berdagang di pasar Losari.”
“Apakah Nok akan selamanya di sana?”
Nok Aya tak segera menjawab. Ada jeda sekian menit, lengkap dengan raut muka Nok yang berubah. Matanya lembab.
“Entahlah Ang. Mungkin setahun sekali, Nok akan ke Jamblang. Keluarga besar Nok kan masih di sini. Maafkan Nok ya, Ang.”
Bulan tinggal sepotong. Angin malam yang berhembus pelan menyapu wajah Ardhi yang tengah menahan perih yang entah. Setelah pamit, Ardhi melangkah gontai ke rumahnya. Takdir kembali mempermainkan hatinya. Perpisahan yang ini tak hanya perkara waktu tetapi juga jarak. Malam itu menjadi perpisahannya dengan Nok Aya.
***
Ardhi membongkar arsip dokumennya, mencari petunjuk keberadaan Nok Aya. Sejak malam itu hingga ia kini di SMK, Ardhi tak pernah berkomunikasi dengan Nok Aya.
Setelah dirasa cukup lengkap, Ardhi meminta Suheri mencari keberadaan Nok Aya di Losari. Hanya dengan berbekal nama dan ciri fisik yang diceritakan Ardhi, Suheri harus menelusuri sudut-sudut pasar. Namun, Ardhi tak salah memilih orang. Pasar Losari sudah menjadi keseharian Suheri karena di sanalah ia berbelanja kebutuhan dagang ibunya.
Suheri melihatnya sedang berjualan sandal dan sepatu di salah satu kios. Sejak pertemuan Suheri dengan Nok Aya itu, Ardhi aktif berkirim surat dengan Nok Aya. Keduanya merajut kembali kepingan-kepingan cerita dengan Suheri sebagai perantaranya. Berlembar-lembar surat, kumpulan puisi, bahkan cerita pendek Ardhi kirim kepada Nok Aya. Hingga suatu kesempatan, melalui surat pula, mereka membuat janji bertemu.
Takdir kembali berpihak pada suatu sore, 12 Desember 2000. Tepat di hari ulang tahun Nok Aya ke-17, mereka bertemu. Ardhi membawa kado ulang tahun istimewa, demikian pula dengan Nok Aya. Lebih dari itu, mereka membawa rindu berusia dua tahun lebih yang menuntut untuk segera dituntaskan. Namun, haru yang sempat menyusup itu harus berlalu begitu cepat. Secepat jingga di tepi barat cakrawala digantikan oleh gelap malam yang segera jadi pekat.
“Ang, Nok ijin pulang ya. Sekali lagi maafkan Nok. Hati-hati di jalan ya, Ang.”
Ardhi mengangguk. Ada rasa takut selepas kepergian Nok Aya seolah ini adalah pertemuan terakhir mereka. Ardhi singgah di sebuah masjid saat perjalanan pulang. Ia gelar sajadah di salah satu sudut dan bermunajat.
“Rabbi, aku bersyukur karena Engkau telah pertemukan kami kembali. Izinkanlah kami bertemu kembali meski hanya sekali.”
Air mata berlinang. Ia tak sanggup lagi meneruskan kata-katanya. Tak terasa, ia sudah terlelap di masjid itu hingga fajar. Lalu berniat berangkat ke sekolah dengan mengendarai sepeda motor naas itu.
***
Dua tahun berlalu. Rumah di Jamblang yang lebih dari lima tahun tak pernah Nok Aya kunjungi, sore itu ramai dengan keluarga besar yang tengah berdoa bersama. Lantunan ayat suci terdengar. Ardhi bergegas menuju rumah itu dan melihat Nok Aya terbaring di hadapannya. Ia tampak sangat letih. Nafasnya sangat pelan. Badannya tak bergerak sedikit pun. Hanya kelopak matanya yang terlihat sesekali menutup. Ardhi tahu, dalam diam, Nok Aya sedang tersenyum kepadanya sambil menahan sakratulmaut. Kali ini, takdir berkata tegas. Doa Ardhi di sebuah masjid sebelum kecelakaan itu, dijawab dengan leukimia yang merenggut nafas Nok Aya.
***
Aang = bahasa Cirebon, panggilan untuk “kakak” baik laki-laki maupun perempuan. Beberapa daerah di Cirebon mengkhususkannya untuk laki-laki.
Nok = bahasa Cirebon, panggilan untuk anak perempuan. Seperti “nduk” dalam bahasa Jawa, atau “neng” dalam bahasa Sunda.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh birokreasi 

No comments