BREAKING NEWS
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Mendung di Jatiluhur

Semoga langit mendung ini bukan pertanda duka. Karena di bumi ada hati yang patah.

Mendung di Jatiluhur Purwakarta
Mendung di Jatiluhur Purwakarta 


Pradirwan - Tempat ini indah. Mungkin itulah yang muda-mudi itu rasakan saat duduk menghadap tepian Waduk Jatiluhur, Purwakarta.

Mereka betah berlama-lama duduk di tempat itu meski mendung menggelayuti senja. Angin sepoi menyapa kumpulan eceng gondok dan bebatuan besar di salah satu sisi waduk, sebelum akhirnya menyentuh kulitnya.

Sementara di seberang, nampak gunung berjejer mengelilingi waduk terbesar di Indonesia ini. Tempat ini memang nyaman untuk menikmati senja. Menikmati semilir angin sore yang menerpa wajah mereka. Entah apa yang mereka pikirkan, keduanya hanya terdiam. Duduk melamun. Membiarkan pikiran masing-masing melayang jauh tak menentu.

Pemuda itu akhirnya bersuara.

"Aku akan melanjutkan studiku ke Jepang. Aku harap kamu bisa menerima keputusanku ini," ucapnya lirih.

Cewek di samping pemuda itu menoleh. Ia seakan tak percaya yang diucapkan kekasihnya. Kata-kata yang diucapkan ditengah perdebatan batinnya antara rela dan tidak rela akan kepergiannya ke Jepang.

"Bukan maksudku untuk meninggalkanmu dengan begitu saja. Tapi aku mohon mengertilah dan terima keputusanku ini."

Begitu hati-hati dan pelan pemuda itu mengucapkan kata-kata itu. Tapi tidak begitu bagi ceweknya. Kata-kata itu menyelinap masuk begitu saja ke setiap memori otaknya. Ingin rasanya ia meminta untuk mengulangi perkataan itu sekali lagi. Tapi apa daya. Bayangan perpisahan mencekat perasaannya. Hati memang tak bisa dibohongi. Baginya, rencana itu membuyarkan kebahagiaannya.

"Jangan menyakiti perasaanmu sendiri. Katakan apa yang ingin kamu katakan," imbuhnya sambil menatap wanitanya.

Genangan air matanya mulai tumpah. Ia tak sanggup lagi menahan gejolak perasaannya.

"Menangislah jika kamu ingin menangis. Menangislah jika itu membuatmu tenang. Tapi ingat, kamu hanya boleh menangisi yang memang layak untuk kamu tangisi. Air matamu itu sangat berharga."

"Tolong, antarkan aku pulang!"

Cewek itu berdiri. Tatapannya memandang jauh ke Bendungan yang mulai dibangun 1957 oleh kontraktor asal Prancis Compagnie française d'entreprise itu. Pikirannya melayang jauh. Seolah ia ingin setegar bendungan itu untuk membendung rasa yang berkecamuk di dalam dadanya.

Kekasihnya akan pergi, meninggalkannya dan kota kecil itu. Juga kenangan. Bayangan rindu yang terpisah ribuan kilo meter mulai menghantuinya. Bukankah rindu yang terpisah jarak itu sungguh menyiksa?

Baginya, yang ia butuhkan saat itu hanya ingin segera pulang dan mengunci diri di dalam kamar. Membenamkan wajahnya yang memerah penuh air mata dengan bantal. Menangis sejadi-jadinya. Karena itu yang bisa membuatnya tenang, setidaknya untuk saat itu.

Sudah dua tahun ini, kedua sejoli ini bersama. Menyusuri setiap sudut kota kecil itu dan merangkai kisah demi kisah.

Pemuda itu pun berdiri dan melangkah ke sepeda motornya. Dingin. Tanpa kata-kata. Tak berapa lama, motor 125 cc itu pun menyala. Keduanya berlalu meninggalkan tempat itu. Mereka tak peduli dengan puluhan pasang mata yang tengah memandanginya. Sebuah keadaan yang membuat mereka menjadi sangat asing.

Gerimis mulai membasahi bumi. Rintiknya menerpa wajah wanita itu. Semakin lama kian deras.

Di sepanjang jalan yang berkelok-kelok itu tak ada percakapan berarti. Semua tenggelam dengan pikirannya masing-masing.

Niatan kekasihnya melanjutkan studi ke Jepang menyisakan kebimbangan. Apakah ia tak rela? Atau mungkin hatinya rela namun masih belum siap? Kenapa ini terasa terlalu mendadak? Sebenarnya apa yang terjadi dengang kekasihnya itu? Berbagai perasaan dan pertanyaan itu berkecamuk dalam benaknya.

Ia percaya jika kekasihnya tidak akan meninggalkan dirinya sepenuhnya. Hati mereka akan tetap dekat walaupun raganya terpisah jauh. Namun ia merasa gamang.

Selayaknya perpisahan, selalu ada yang hilang, tak lengkap, dan membuat hidupnya menjadi tak nyaman nantinya.

Bahwa pada setiap perpisahan, pasti meninggalkan bekas yang tidak akan sembuh dalam waktu dekat. Biar bagaimanapun, tidak ada yang akan baik-baik saja tentang sebuah perpisahan.


Beberapa menit kemudian, Pemuda itu mengajaknya berhenti di sebuah pasar malam yang sedang digelar di taman salah satu balai desa.

"Kamu tunggu disini sebentar ya!“ ucapnya usai memarkirkan kendaraannya. Sejenak wanita itu tersentak dari lamunannya seraya mengangguk pelan. Tangisnya telah lama reda. Pemuda itupun berlalu.

Wanita itu memandangi sekelilingnya. Kerlap-kerlip lampu hias dan aneka jajanan berjejer. Di tengah taman, berbagai wahana bermain anak-anak, dengan disoroti lampu aneka warna untuk menarik pengunjung.

Gelak tawa dari gerombolan remaja putri menggema dalam telinganya. Sesekali, suara rengekan balita yang memaksa ibunya agar diijinkan main di wahana itu terdengar, bercampur dengan alunan musik.

Rengekan itu membuatnya tersenyum. Ia teringat dirinya beberapa saat lalu pun menangis, seperti balita itu. Anak itu memang sama menangisnya sepertinya. Tapi dia menangis pada ibunya. Sudah pasti ibunya akan menuruti keinginan anak itu lalu ia bisa menaiki wahana. Tangis yang nyelengking suaranya itu akan berganti dengan tawa mengembang nantinya.

"Nasibnya mungkin lebih baik dariku," gumamnya.

Tangis anak itu begitu polos. Dia belum merasakan ketika perjalanan hidup dihadang permasalahan. Dihadapkan dalam kenyataan dan pilihan.

Tapi ia adalah gadis yang sudah tumbuh berkembang. Sebentar lagi umurnya beranjak 18 tahun. Masa peralihan dari kanak-kanak menjadi dewasa. Tapi apa ia sanggup? Apakah ia siap?

Bulir bening kembali menetes di kedua pipinya. Ia mengingat masa-masa saat berkenalan dengan pemuda itu. Ia menyadari, ada banyak pelajaran hidup yang ia peroleh sejak berkenalan dengan pemuda itu. Caranya membahagiakan keluarganya, mengelola waktu, termasuk caranya meraih mimpi-mimpinya.

“Hai, kok melamun?"

“Aku masih belum ikhlas kamu harus pergi secepat ini?”

“Aku sudah pernah bercerita kalau aku akan menempuh pendidikan di luar negeri. Aku ingin kuliah dan bekerja di sana. Kamu paham kan, kalau biaya hidup di sana tidak murah?”

“Ya, tapi aku tidak pernah berpikir secepat ini. Dua tahun lalu sejak kamu hadir, hidupku menjadi utuh. Kamu selalu ada untukku. Kalau kamu pergi, apakah aku sanggup?”

“Kamu pasti sanggup. Anggap saja ini ujian hidup yang harus kita lalui. Ingat ya, bukan jarak yang menjadi masalah untuk bisa bersama. Tetapi rasa ego yang tak dapat dikendalikan.”


Pada akhirnya, wanita itupun menyerah. Ia menyadari, perpisahan sementara ini adalah awal kisah baru yang akan lebih indah dari sebelumnya. Semoga. (*)


Pradirwan,
Bandung, 17 Januari 2020

*cerita ini fiksi belaka, semoga terhibur.

Cerpen lainnya:

Fragmen tentang Juli


Cerpen Cinta Fragmen tentang Juli - Pradirwan
Fragmen tentang Juli 


Pradirwan
- Pesawatku mendarat usai menyeberangi samudera berjam-jam. Perjalanan panjang ini sungguh melelahkan.

Aku menginjakkan kakiku di sebuah pulau yang subur. Gunung nampak kokoh menjulang. Ia berjubah awan putih. Sawah terhampar berundak. Burung-burung saling bermesraan di antara padi yang menguning. Sementara di bawah sana, aliran sungai meliuk-liuk. Gemericik airnya menentramkan hati.

Siang ini berjarak 36 hari dari suatu pagi, kala aku bertemu senyummu. Ini sungguh di luar dugaanku. Kita justru jauh lebih dekat dari sekadar saling mencuri pandang.

Jantungku berdegup kencang. Inikah saatnya, misteri yang kusimpan untukmu akan terkuak?

Ini adalah sebuah siang bermakna kala senyum yang engkau sulamkan tak lagi menghiraukan terik yang menghunjam wajahmu.

Senyummu pula yang memecah kebisuan saat setiap pertanyaan yang hendak kuajukan tercekat kelu saat di dekatmu.

"Bagaimana kabarmu, Don?"

Dua minggu lalu kudapati dirimu menabur senyum di halaman hati. Entah mengapa aku merasa tak berkutik. Maka saat senyum itu tumbuh menjadi cinta, kupetik lalu kutanam lagi dalam-dalam di taman sanubari.

Lantas selanjutnya apa? Apakah bisu adalah kata kerja? Aku pernah mendapati tanah bercerita tentang bunga yang berguguran mengecupnya. Apakah kau ingin mengecup misteriku juga?

Aku pun pernah mendengar kabar tentang persamaan hati dan hujan. Tahukah kau bahwa keduanya jatuh di tempat yang Tuhan kehendaki?

Selain persamaan itu, tahukah kau bahwa pernah ada hujan yang jatuh bertubi-tubi. Deras sekali. Hingga setiap tetesnya melapukkan kayu yang terpendam bisu.

Pasti akan menjadi hari yang sangat menyebalkan, jika tahu dirimu adalah bagian dari hujan tersebut dan aku adalah kayu malang yang kau jatuhi itu.

Jika percakapan ini datang, sudikah kiranya dirimu memberi kasih yang kuminta? Atau andai hatimu telah membeku, maka aku akan mengadu kepada kemarau, agar ia segera mencair di sanubarimu, lalu kita ukir kembali cinta itu?

*

Dear, Juli.

Ini masih tentang siang itu. Kala sinar teriknya menghunjam wajahmu tanpa toleransi.

Kulihat kau memandangku dengan tiga garis di keningmu yang membentang heran. Mungkinkah lagi-lagi segala tanyaku penyebabnya? Ataukah ada hal lain yang memenuhi pikiranmu? Adakah sepenggal kalimat yang hendak kau ucap untukku?

Aku tahu kamu ragu. Aku merasakan bahwa sesekali diammu dan garis-garis di keningmu menjelaskan itu. Sorot matamu pun menguatkan hal yang sama.

Seketika aku dibuat gugup. Aku membayangkan jawabmu itu akan mengetuk jantungku. Lalu mengaduk-aduk perasaanku lagi.

"Aku tak bisa, Don."

Benar saja dugaanku. Tapi kenapa? Lagi-lagi aku dibuatnya penasaran. Hingga kau tak lagi bisa mengelak.

"Aku ragu, Don."

Kita beradu pandang. Ada sendu yang berpijar redup di kedua bola matanya yang pekat.

Pada intinya, dari perkataanmu itu, kita akan menjadi sepasang manusia yang akan terpisah jauh oleh jarak. Bahkan di saat kita belum tahu-menahu misteri masa depan yang kita punya masing-masing.

Apakah benar sampai jumpa lagi atau selamat tinggal adalah dua kosakata baru yang salah satunya akan mengisi kamus rumitnya kisah kita?

Karena mungkin saja kita nanti terpisah jarak, tetapi setelah berpisah, akan ada hal apa lagi?

Tapi biarlah. Jika sudah bulat tekadmu itu maka beri aku satu janji dari senyum yang diapit lesung pipimu itu. Selanjutnya "berpisah" akan kuanggap sebagai kata perintah, tapi dengan catatan itu hanya sementara saja.

**

Hai, Juli.

Suatu malam yang berjarak 14 hari sejak kudapati senyummu, aku membawakan setumpuk puisi yang sulit dirimu, bahkan diriku untuk tafsir sendiri. Gelisah, gundah, atau resah bercampur di dalamnya.

Hanya satu kepastian, setiap rindu yang kutuliskan itu adalah tentangmu. Kini kumengerti, nyatanya jarak terjauh sebuah rindu adalah tak berada di langit yang sama.

Tapi, Juli.

Bukankah kamu pernah berkata, kamu merindukan puisi-puisiku yang kukirim sebelum tidur malammu?

Kukira dengan mengirimimu puisi dan menyebut namamu setiap malam, sayap-sayap doa akan terbang menembusi langit, lalu kita akan menjadi utuh. Tak kusangka, kau malah patahkan sayap-sayap itu.

Saat dua pasang bola mata bertemu, ada yang berbeda dari senyummu yang pernah kudapati dalam bentuk anugerah.

Malang sekali, senyummu yang mulanya kukira hanya untukku itu ternyata sudah terbagi. Aku melihatmu bersamanya.

Tahukah kau, Juli...

Dalam setiap kepergian ada sunyi.

Meredam suka menggugah sepi.

Namun, sebelum darahku membeku dan nadiku terhenti.

Aku ingin memeluk dan tidur di pangkuanmu, meski hanya sekali.


***

Senja, sehari usai malam itu. Aku telah tiba kembali ke kotaku. Di ujung cakrawala mentari bersandar. Bias cahaya jingganya lembut mewarnai langit barat.

Baru kusadari, bias cahaya itu telah mengubah wajah kota ini menjadi sebuah fenomena: tentang perubahan sebuah lukisan realis yang tanpa ada satu garispun melenceng, menjadi sebuah siluet bangunan dengan jejeran gedung berlatar langit senja. Sungguh indah.

Aku tengah menikmati fenomena itu ketika tiba-tiba sebuah pesan masuk di gawaiku.

"Kamu di mana, Don?"

Deg. Lama kubaca pesan itu. Berulang-ulang.

Aku memang pergi darimu tanpa pamit. Tetapi aku tak punya alasan lain. 

Kamu tahu Juli?

Aku bisa merasakan dentuman hebat yang menyerang jantungku saat kita saling berbicara, bergurau, atau berbagi cerita. Aku pun bisa merasakan tusukan nyeri di ulu hatiku saat aku tahu bahwa kau telah bersama seorang yang lain. 

Aku memang iri karena aku bisa merasakan sesak di dadaku saat aku harus melihat adegan kamu bersamanya. Begitu dekat, mesra, dan bahagia. 

Terkadang aku berpikir, mengapa ia bukanlah aku? Mengapa aku tidak lebih dulu mengenalmu dan mengapa waktu terlalu terlambat mempertemukan kita?

****

Aku termenung. Berpikir untuk berusaha menyangkal. Kian kukuh aku untuk menghindar, semakin kutersadar bahwa aku sungguh mencintaimu.

Rasanya getir dan manis datang bersamaan. Namun bukan hal itu inti dari penjajakan hidup dan cinta ini. Terlebih kita bukanlah anak-anak lagi yang mengandalkan tangis untuk sebungkus es krim kesukaan.

Hubungan kita memang belum bernama. Lalu untuk apa aku secemburu itu hingga memutuskan pulang ke kotaku?

"Aku sudah kembali ke kotaku. Ada urusan penting. Maaf aku belum sempat mengabarimu," jawabku.

Dalam hatiku berjanji, aku akan melupakanmu. Kalau kamu membalas pesanku lagi, akan kubantah habis-habisan.

Tetapi, bagai bias cahaya mentari, tekadku itu tenggelam di balik cakrawala, meninggalkanku sendiri. Sialnya, itu membuatku tak tenang. Aku mulai menghujani diriku dengan rentetan pertanyaan yang tak dapat kujawab.

"Ooh. Apa kamu tak sedikitpun mengingatku? Memangnya ada yang lebih penting dari aku?" tanyamu. Hatiku mencelos.

"Apa maksudmu? Bukankah kamu sudah bersama pria itu?"

"Apa? Itu tidak seperti yang kamu pikirkan!"

"Kamu sendiri yang bilang kalau kamu ragu? Rupanya dia yang membuatmu ragu padaku?"

"Sungguh, Don!. Itukah yang kamu pikirkan tentangku? Itu tidak benar."

Aku terdiam tak membalas lagi. Bisa saja kamu hanya ingin menenangkan aku. Sekarang, hanya tersisa perasaan ini di sebuah persimpangan jalan. Terserak dihantam laju waktu. Terpikir mengajak segenap hati dan raga untuk tidak lagi terlindas rasa.

Tiba-tiba teleponku berdering. Kamu menelponku. Tak ada alasan lagi untuk tidak menyelesaikan masalah ini.

"Beri aku kesempatan menjelaskan ini semua, Don!" Aku mengiyakan.

"Dua hari yang lalu aku menerima pesan darinya. Aku diajaknya bertemu. Aku menyanggupi karena dia selalu membantuku saat skripsi dan aku menghargai undangannya. Tak disangka, dia memberiku seikat bunga. Mungkin saat itulah kamu melihatku bersamanya.

Aku mengira itu hanyalah ucapan selamat darinya atas kelulusan aku. Namun ternyata dia mengungkapkan perasaannya ke aku, Don." 

Dadaku kembali bergemuruh. Sepertinya Juli merasakan kegelisahanku.

"Please, jangan marah dulu. Aku lalu mengembalikan bunganya. Aku berkata bahwa aku tidak bisa menerimanya. Aku hanya menganggapnya sebagai seorang kakak. Tidak lebih. Sebenarnya, ada alasan yang lebih dari itu dan dia pasti tahu itu, Don.

Ya. Aku teringat kamu, Don. Ketika kamu mengungkapkan perasaanmu ke aku, kamu memberiku es krim karena kamu sangat mengenalku. Aku tidak suka bunga.

Bagiku, kamulah orang yang paling bisa mengerti dan mengenali aku. Aku nyaman bersama kamu. Aku sudah yakin dengan pilihanku. Aku ingin bersamamu, Don."

"Benarkah itu, Juli?" 

"Cinta kita dibangun di atas rasa saling percaya. Kesabaran dan pengertianmu selama ini adalah dinding kokoh yang membuatku nyaman dan terlindungi."

"Hahaha... Aku bahagia sekali, Juli. Matahari di sini sudah tenggelam, tapi langit masih nampak sedikit kebiruan. Ini adalah waktu favorit kita, Juli. Senja yang indah. Barangkali saatnya aku pulang. Tunggu aku akan kembali ke kotamu secepatnya. Aku tak sabar ingin melamarmu. I love you."

"I love you, too!"  (*)

Pradirwan, 
Bandung, 24 Juli 2021

*cerita ini fiksi belaka, semoga terhibur.



Kita di Sini, Mei

Kita di Sini, Mei


Pradirwan
- Kita di sini, Mei. Menembus hujan yang menari sesuka hati bersama dengan dengungan romansa yang dipeluk angin.

Menari sampai nada-nada terakhir. Menari laksana esok hari tak hadir lagi.

Menari dengan kejujuran di matamu bahwa kesempatan tak datang dua kali. Tiada terulang esok, hari ini. Mungkin pula tiada kita esok hari.

Pada tiap-tiap tatapanku, ada pendar jingga kecoklatan di sekitarmu. Hanya ada satu kesimpulan: aku masih merindumu, Mei.

Gemuruh dihatiku berputar seperti topan yang riuh. Mengasuh asa, bahwa suatu saat takdir akan berubah.

Seperti pendar pelita yang membuat malam terang. Memberi kehidupan kepada mereka yang nyaris pulang.

Di sinilah kita, Mei.

Bersamamu, ibarat penanda kehidupan yang akan membuatku lebih memaknai apa yang telah kumiliki sekarang.

Memberi harapan, seperti terang hijau daun yang mulai bersemi.

Ketika lelah, ia tak lantas gugurkan daunnya, seketika. Ia biarkan angin yang jadi penentu takdir, akan jatuh ataukah tetap bertahan.

Dan bersamamu Mei, selalu menyimpan harap, bahwa suatu saat, kau akan mampu mengisi ruang kosongku, menjadi pelitaku di malam-malam yang semakin kelam.

***

"Don, kamu mau ke mana?"

Tanyamu kala itu adalah sesuatu yang sukar untuk dijawab, Mei. Entah mengapa aku tidak bisa menjawabnya. Sungguh aku tidak punya jawabannya. Berharap semesta membantuku menjawab tanya itu. Atau memang semesta tidak menyediakan jawabannya untuk kita.

"Kemana saja, asal kita jangan pisah.”

“Lalu kita harus apa?”

Andai saja kupunya jawabannya, Mei. Jawaban atas semua tanyamu sekarang dan sebelum-sebelum ini. Tentang kita yang tersandung dan hampir goyah. Atau sudah.

“Tetaplah mencintaiku, Mei. Seperti kamu yang sekarang dan kamu yang dahulu.”

“Yakinlah, waktu akan punya caranya sendiri untuk menjemput rasa. Apa menurutmu begitu saja itu cukup?”

“Kalau sudah selesai ya sudah. Tetaplah mencintaiku sampai lelah tiba di ujung batasnya.”

Bahkan hubungan kita belum bernama, Mei. Lalu haruskah kita mengikhlaskan sisa-sisa pusaran ini?

"Aku tahu kamu akan selalu mencintaiku, Don.”

Ucapmu barusan seperti dedaunan rimbun di tengah padang gersang. Teduh. Cocok dengan senyum dan tanganmu yang bertaut.

Ah, lagi-lagi aku salah. Kamu cocok dengan apapun yang bumi punya. Sayangnya, kamu hanya tidak cocok denganku.

“Bukan, kita hanya berada di waktu yang salah.”

“Itu artinya memang tidak cocok, kan?” Matamu yang terpejam anggun itu mulai memberi pemakluman.

“Waktunya yang tidak cocok.”

Telapak tanganmu terjatuh lembut di kedua bahuku. Aku merasa seperti diberikan nirwana beserta isinya olehmu.

Terkadang aku merasa tidak pantas untuk kamu cintai. Siapalah aku ini, tidak punya kelebihan dibanding mereka-mereka yang mengantre untuk melamarmu.

Meski begitu, bilik-bilik hatimu selalu berhasil merengkuh jiwa lemahku lalu berbisik, “Aku hanya mau kamu, Don.”

Lalu kita berdua disini, saling terkait, dan berbincang soal apa-apa yang mungkin terjadi di masa depan.

Karena kita tidak bisa membeli rahasia Tuhan, Mei. Yang bisa kita lakukan hanyalah menebak, langkah mana yang terbaik untuk kita. Hanya itu.

Ruang cafe di sudut jalan itu lalu menguap seperti air yang dimasak di atas tungku. Kita saling menghilang dari pandangan masing-masing.

Pada akhirnya, kita mesti berjalan di satu garis yang masih sama, hanya saja arah kita terpaksa berbeda.

Kita berdua menangis di bawah langit jingga yang sama, hanya saja kita tidak saling memeluk.

Kita jatuh cinta, saling rindu, meski dengan cara yang terpaksa berbeda.


***

Satu postingan instagram setiap bulan mati itu meyakinkanku bahwa masih ada aku di hati kamu.

Kalimat menyenangkan yang kau tulis di caption-nya meyakinkanku bahwa aku masih punya banyak waktu.

Sajak dan prosa yang tertuang di sana meyakinkanku bahwa bagimu aku masih menjadi pilihan hatimu.

Jika niatmu untuk memupuk asa hubungan kita yang nyaris tenggelam, maka kamu berhasil, Mei. Aku menjadi bersemangat. Meski aku tak tahu, entah akan berapa lama rasa ini akan singgah.

Seperti katamu, Mei. Bahwa waktu akan punya caranya sendiri untuk menjemput rasa. Ini pula yang menjadi keyakinanku saat ini.

Meski kadang yang waktu lakukan padaku itu kejam. Ia sesekali mencuri semua kenanganku bersamamu, membelenggunya, lalu membakarnya hingga binasa. Lalu yang aku lakukan untuk membalasnya hanyalah membaca ulang tulisan-tulisanmu itu, Mei.

Kadang aku kembali di malam itu, mengingat gaun polos yang selaras dengan warna kulitmu dan mengingat senyuman yang tersungging di wajahmu. Sebelum semesta akhirnya memisahkan kita, Mei.

Di perjalanan ini, mentari jingga jatuh di balik bukit. Aku menatapnya, Mei. Sejenak aku bertanya, apakah mentari senja di sana memantulkanku di antara kedua matamu?

***

Mentari senja datang lagi. Awal bulan penanggalan hijriah. Kembali aku membuka instagramku. Berharap satu postinganmu muncul teratas di linimasa. Seperti bulan-bulan sebelumnya.

Hujan yang membasahi bumi tadi pagi masih meninggalkan bekas. Barangkali ini hujan terakhir sebelum memasuki musim kemarau.

Kemarau ketujuh. Tak ada postinganmu lagi.

"Jika esok ada waktunya, kamu masih mau sama aku, Don?”

“Seandainya kamu mengizinkan.”

“Aku mengizinkan.”

“Aku berharap semestapun turut mengizinkan.”

Kita saling berpesan, saling bersandar.

Ini cuma sebentar, Mei. Aku akan kembali ke kotaku esok. Sementara kamu hanya perlu mengisi tujuh tahun itu dengan berjalan. Jangan menghitung. Nanti kita bertemu lagi di sini.

"Seandainya aku pulang dan kamu sudah pergi, aku janji tidak akan mencarimu.”

“Meski kamu sedih?”

“Meski aku sedih.”

“Tapi kalau kamu menemukanku, kamu boleh datang.”

“Sungguh miris ya, Mei? Kamu itu rumahku. Kalau aku datang artinya aku bertamu ke rumahku sendiri.”

“Kalau begitu, kita tidak akan lagi punya waktu seperti ini. Seperti dulu.”

“Itu lebih baik dari pada kesakitan melawan takdir, Mei.”

Kamu terdiam.

Perbedaan letak Bandung dan Manila saja sudah membuat kita menahan terlalu banyak. Kalau Nursultan penggantinya, kita bisa sama-sama mati.

“Setiap bulan mati, ingat aku ya, Don. Aku akan posting di instagramku untuk mengenangmu.”

“Aku akan selalu membaca postinganmu. Tetapi kenapa hanya pada bulan mati?"

"Saat itu langit sangat gelap. Bintang akan nampak lebih jelas. Aku ingin kamu memandang bintang-bintang itu. Bayangkan aku di antara bintang-bintang itu ya, Don."

Aku mengingatmu lagi, Mei. Pada musim kemarau ketujuh ini. Meski katamu kala itu aku tak perlu lagi mengingatmu. Tetapi tetap saja aku lakukan. Karena bagiku tak ada batas waktu untuk mencintaimu.

Aku berjalan. Salahku juga yang menghitung waktu hubungan tanpa nama ini.

Hingga hampir tengah malam, akhirnya postingan instagrammu muncul lagi. Musim kemarau tahun ketujuh, kamu memberi tahu bahwa kamu pergi. Kamu telah mendapatkan pengganti.

Lalu aku mengerti. Selama ini aku bodoh telah menanti cinta yang sebenarnya tidak pernah ada. (*)


Pradirwan
Bandung, 16 Mei 2021

*cerita ini hanya fiksi belaka. Semoga terhibur. 

Cerpen lainnya:
  1. Secangkir Kopi Pahit dan Kisah Kita
  2. Terima Kasih Telah Menghabiskan Waktu Bersamaku
  3. Senja Mati di Kota Ini
  4. Sepotong Sore di Pantura
  5. Catatan di Kala Senja
  6. Tabrakan
  7. Kisah masa lalu : Rini
  8. Kisah masa lalu : Yang ku cinta bukan jodohku
  9. Gadis itu bernama Amel

Secangkir Kopi Pahit dan Kisah Kita

Secangkir Kopi Pahit

Pradirwan
- Awal tahun ini hujan semakin sering turun. Biasanya sore hingga malam. Ditambah kondisi pandemi membuatku semakin malas beranjak.

Tetapi tubuhku mulai kedinginan. Secangkir kopi panas sepertinya menjadi pilihan tepat untuk menghangatkan tubuhku.

Aku memilih tempat biasa. Sebuah cafe tak jauh dari rumah. Lokasinya dekat jalan utama, namun cukup jauh dari keramaian.

Aku memilih tempat duduk di salah satu sudut cafe bergaya vintage itu. Di sini aku bisa mengenangmu.

Aku

Kita sering menghabiskan malam minggu di cafe ini. Menikmati alunan live music. Dan kamu sesekali mengikuti irama gitar akustiknya ketika mereka memainkan lagu yang kamu suka.

Aku bisa merasakan, kamu telah bahagia dengannya. Seorang laki-laki yang namanya seringkali hadir di tengah hubungan kita. Seseorang yang pada akhirnya membuat kita berpisah.

Secangkir americano yang aku pesan pun tiba. Aromanya yang kuat membuatku rileks. Aku menyeruput kopi pekat itu. Rasa pahitnya sungguh terasa.

Ada sebungkus gula merah di sisi cangkirnya. Tetapi aku jarang sekali mencampurkannya. Bagiku, kopi hitam pahit tanpa gula adalah sebuah kenikmatan tak terkira.

Lagipula, aku memang tak ahli mencampurkan kopi pahit dengan gula. Sama halnya dengan membuatmu bahagia. Aku tak seahli laki-laki yang kini mengisi hatimu itu.

Aku memang masih sakit hati meski perpisahan itu telah puluhan purnama aku lalui. Kenangan bersamamu terasa enggan berlalu dari hidupku. Terlebih setelah aku tahu, yang mengisi hari-harimu adalah teman baikku.

Aku mulai membuka gawaiku di sudut bisu. Sekadar menuliskan segala hal yang terlintas, melihat beberapa foto, membaca berita, melihat notifikasi atau linimasi media sosial, serta menjawab pesan-pesan yang singgah. Tak ada yang istimewa. Kegiatan itu memang sudah menjadi rutinitas harianku.

Tiba-tiba di deretan story instagramku, aku melihat akunmu. Kamu nampak berbahagia bersanding di pelaminan dengannya.

Seharusnya itu tak menjadi masalah buatku. Sejak berpisah, apa pun yang terjadi dalam hidupmu, keputusan-keputusan yang kamu buat, semuanya kini tak lagi menjadi urusanku, bukan?

Maafkan aku bila sesekali aku merindukanmu di sela-sela waktuku. Aku tak akan mengganggu kebahagiaanmu.

Aku hanya sedang ingin menikmati semua ini. Mengingatmu. Mengenangmu. Merindukanmu. Dalam secangkir kopi pahit dan rintik hujan yang semakin membasahi bumi. (*)



Pradirwan
Bandung, 2 Januari 2021


*cerita ini hanya fiksi belaka. Semoga terhibur. 

Cerpen lainnya: 

Terima Kasih Telah Menghabiskan Waktu Bersamaku

Jalan Asia Afrika Bandung

Pradirwan- Aku melihatnya. Jarak antara aku dengannya tak terlalu jauh. Ia berbaju merah, sedikit menarik perhatianku, duduk sendirian di kursi trotoar sambil memperhatikan gadget-nya yang menyala. Sesekali ia mengambil gambar dirinya. Ber-selfie ria dengan background lalu lalang kendaraan.

Dia menoleh kepadaku. Tersenyum. Aku 'tersesat' dalam binar indah matanya. Semesta seakan berhenti berputar.

"Tidak salah lagi. Ini dia yang telah lama ku kenal hanya lewat media sosial," gumamku.

Aku menghampirinya dengan sisa-sisa keraguanku. Senyum tipisku menyambut senyum ramahnya.

“Sudah lama?” Aku duduk disampingnya dan mulai membuka obrolan.

“Tidak juga,” jawabnya. Gadget yang dipegangnya ia masukkan ke dalam tas kecil yang ia bawa sambil mengalihkan pandangannya. Aku kira, sedikit perasaan gugup mulai menjalari tubuhnya. Pun begitu diriku.

Aku menikmati moment itu. Pandanganku lekat ke wajahnya. Sungguh, segala hal tentangnya sangat sempurna. Dia seperti dewi dalam mitologi Yunani yang sering kubaca. Suasana alun-alun kota sore ini seolah sedang mendukungku bertemu dengannya.

“Senang bertemu denganmu secara nyata,” katanya. Kali ini mata kami beradu pandang.

Aku tersenyum, “Senang juga melihatmu lagi secara terencana.”

Ia terkekeh.

Aku teringat sesuatu. Tanganku merogoh sebuah buku yang sengaja kubawa dari rumah. “Ini buku antologi puisi pertamaku."

Tangannya terulur mengambil buku yang sengaja kupinjamkan padanya.

“Terima kasih ya.”

Aku mengangguk.

Dia mengajakku untuk sekadar berjalan di area alun-alun kota. Sambil berjalan, kami saling bertukar kisah.

Sesekali aku tertawa mendengar ceritanya tentang kekonyolannya hari ini. Dia seakan mempercayakan segalanya padaku. Dan entah mengapa aku merasa sangat bahagia ketika mengetahui hal itu.

"Terima kasih,” kataku.

Dia menolehku, “Untuk apa?”

Aku tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya.

“Menghabiskan waktumu bersamaku,” jawabku ragu.

Dia menatapku lekat. Sepertinya dia tak percaya aku mengatakan itu di antara riuh manusia dan warna jingga yang muncul di langit alun-alun kota sore ini.

Jantungku berdegub kencang. Mataku masih menatap lekat matanya dalam-dalam.

Sayup-sayup dari kejauhan suara alunan lagu cinta dimainkan. Dua orang pengamen memainkan gitar, sementara satu orang menengadahkan topinya, meminta recehan.

Aku tahu ada sesuatu yang berbeda di mata itu. Aku benar-benar yakin bahwa tatapan itu adalah benar. Ya, dia jatuh cinta padaku. Dan aku pun begitu, aku jatuh cinta padanya.

“Aku menyukai senja kali ini. Itu karena aku menghabiskannya bersamamu. Sejak pertama kali aku melihat fotomu, mem-follow akunmu, dan kamu merespon pesan singkatku, aku sering memikirkanmu. Sejak kamu berkata kita pernah bertemu beberapa kali, namun kamu tak pernah menjelaskan pertemuan itu. Aku merasa... Aku jatuh cinta padamu," ungkapku.

Air mukanya berubah. Pandangannya menatap jauh.

"Aku tak bisa."

Tenggorokanku tercekat. Beberapa detik kemudian dia berkata, "Kamu terlalu sempurna untukku."

"Apa? Tidak, aku tak sesempurna yang kamu kira. Kamu terlalu naif. Jangan pernah menganggap bahwa kamu tak pantas untuk mencintai dan dicintai. Semua orang berhak untuk bahagia," tegasku.

"Aku ga mau patah hati lagi. Aku capek mencintai seseorang," jawabnya lirih. Kali ini dia menunduk.

"Tolong lihat aku dan beri aku kesempatan untuk memberikan yang terbaik, melebihi kebaikan orang lain yang pernah ia berikan kepadamu."

Giliran matanya menatap lekat mataku. Mencari-cari kesungguhan atas ucapanku. Lalu, tanpa berkata, ia tersenyum dan mengangguk perlahan.

Aku menyambut senyum itu dengan perasaan lega. Aku ingin memeluknya, namun urung karena tiga pengamen tadi tepat di depan kami. (*)



Pradirwan
Bandung, 27 Desember 2019

*Semua kisah dalam cerpen ini hanya fiktif belaka. Semoga terhibur. 

Cerpen lainnya: 
Senja Mati di Kota Ini

Surat Untuk Anakku Kelak

Sudah lama ku ingin menulis surat ini untukmu, Nak (Pradirwan)


Assalamu’alaikum calon anakku,

Surat ini dari Ayah. Lelaki yang mengharapkan kedatanganmu ke dunia sejak belasan tahun lalu. 

Lelaki yang akan mencintaimu sepenuh jiwa, tanpa syarat.  Sebagaimana cintaku untuk ibumu, orang yang telah menjadi pelengkap hidupku selama ini.

Entah pada usia berapa engkau akan membaca suratku ini. 

Ayah menulis surat ini dalam kegelapan malam. Usai melantunkan ayat-ayat suci Alquran, di samping Ibumu yang khusuk mendengarkan, sebelum mimpi-mimpi membawanya terlelap.

Saat Ayah menulis surat ini, usiamu hampir genap empat bulan beberapa hari ke depan. Tulisan ini adalah ungkapan kerinduan dan cinta Ayah padamu. 

Meski sebetulnya tulisan inipun tak sanggup menggambarkan betapa Ayah sangat bersyukur kepada Allah yang telah menitipkan dirimu kepada kami, orang tuamu. 

Ayah bahagia sekali mengetahui engkau sedang tumbuh kembang di perut ibumu saat ini.

Wahai anakku. 

Saat Ayah mengetahui dirimu akan hadir, sepertinya itu menjadi hari bersejarah bagi Ayah. Ayah memastikan kabar itu dengan mengantar ibumu ke dokter. 

Ayah ingat sekali, meski harus bolak-balik, rumah-kantor-rumah sakit, Ayah ikhlas. Semua terbayar ketika dokter mengucap kata selamat. 

Tak lupa, dokter itu berpesan agar kami selalu menjagamu. Kamu masih sangat lemah. 

Ibumu jangan sampai kecapean. Itu yang membuatku saat ini mengambil alih sebagian rutinitas ibumu mengurus rumah tangga. Apa itu? Kelak dirimu akan mengetahui.

Anakku. 

Kami berharap, kau akan menjadi anak yang sholeh/sholehah. 

Jangan lupakan hati untuk menebar kebaikan, merawat kebaikan, dan berprasangka baik di manapun kau berada. Yakinlah, Allah selalu membalas kebaikan dengan kebaikan yang lebih baik lagi.

Anakku. 

Apakah Ayah akan dapat mengazanimu ketika kamu lahir? Apakah Ayah masih di sampingmu saat kamu membaca surat ini? Apakah Ayah akan bisa melihatmu beranjak dewasa? 

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi kekhawatiran terdalam yang selalu Ayah rasakan. Masih teringat jelas, saat kakakmu dulu hanya bertahan kurang dari 3 bulan di perut ibumu. 

Mungkin ini hanya kekhawatiran semu semata, karena Ayah takut kehilangan lagi. Ayah percaya, setiap kejadian selalu meninggalkan hikmah.

Anakku. Ingatlah nanti jika kau beranjak dewasa. Akan banyak tantangan yang akan kamu hadapi. Hidup tak selamanya mudah. Bersandarlah selalu pada Allah, Tuhan semesta alam.

Jika diingat-ingat, perjalanan hidup Ayah juga tak mudah. Ada banyak pelajaran kehidupan yang tak semua bisa Ayah temui di sekolah. 

Bagi Ayah, kehidupan yang Ayah jalani ini adalah sebuah perjalanan, dan perjalanan merupakan proses. Karena sebuah proses, Ayah tak selamanya benar. Sesekali melakukan kesalahan. Ayah anggap itu bagian dari pembelajaran.

Anakku. Jangan pernah takut memulai perjalananmu sendiri. 

Kesuksesan hidupmu nanti ditentukan saat kapan dirimu memulai. 

Seperti kata Ayah, perjalanan merupakan sebuah proses, maka mulailah proses itu, kelak pasti akan sampai pada tujuanmu. 

Pun bila tidak sesuai dengan tujuan awal, yakinlah setiap perjalanan pasti akan selalu menemukan ujungnya.

Maka sekali lagi, jangan khawatirkan ke mana kelak akhirnya menuju. Pastikan saja langkah kita selalu berpijak pada kebenaran. Karena prinsipnya, pilihan langkahlah yang pada akhirnya menjadi penentu. 

Ya, oleh karena itu percantiklah setiap langkah perjalanan itu dengan kebaikan dan kebermanfaatan. 

Jika sudah begitu, durasi tak lagi penting ketika kita terlanjur bahagia dalam perjalanan, apatah lagi hanya sebuah tujuan. Bukankah hidup demikian?

Apalagi yang membuat harga hidup seseorang bernilai selain kebermanfaatannya untuk banyak orang?

Maka, isi perjalanan kita dengan berbagai kebaikan.

Anakku, semoga Allah selalu melindungimu. 

Maafkan Ayahmu yang tak sempurna. Ayah dan ibumu akan selalu menyayangimu.

Salam sayang dan doa untukmu, Anakku.



Wassalam.

Bandung, 7 Juli 2019

Ttd

Ayah


Sumber : AyoBandung.com

Senja Mati di Kota Ini

photo: Me. Taken by @masla074
Pradirwan ~ Pandanganku menerebos sela-sela jendela. Aku menyaksikan hujan turun dengan derasnya. Tiba-tiba, potongan cerita itu kembali menyapa. Sebagian orang menyebutnya kenangan. Tapi bagiku, ini hanyalah sebuah hayalan. Karena, Senja Mati di Kota Ini.

Sepotong Sore di Pantura

PradirwanKisah ini, ku tulis kembali. Bukan untuk membuka luka. Hanya mengabadikan kenangan. 
Mari sejenak kita mengingat kenangan lama. Kenangan yang pernah terbungkus indah. Meski kini tak kan pernah lagi sama.
Aku akan tetap ada disini dengan semua kenangan yang kau tinggalkan. 
***
sepotong sore di Pantura
“Brak!”
Dentuman itu terdengar dari motor yang semula melaju cukup kencang, dan berakhir dengan menabrak mobil pengangkut botol minuman yang terparkir di sisi jalan menuju sebuah SMK Negeri di daerah Cirebon. Ketiga remaja sekira 17 tahun pengendara sepeda motor tersebut jatuh. Mereka terpelanting dan tak sadarkan diri. Beberapa orang yang sedang di lokasi kejadian datang menolong dan membawa ketiganya ke rumah sakit terdekat.
Hasil rontgent menyatakan Ardhi menderita patah tulang pergelangan tangan kiri. Kedua temannya lebih parah. Beberapa hari berselang, Ardhi diizinkan pulang meski tetap harus beristirahat di rumah. Setidaknya, ia sudah terbebas dari suasana rumah sakit yang membosankan. Di kamarnya, di atas pembaringan berkelambu biru, Ardhi merenung. Kecelakaan itu hampir membuatnya kehilangan nyawa.
Dari balik dinding kamar, terdengar sayup-sayup suara perempuan. Benar saja, seorang gadis berbaju batik dengan kerudung merah membuka pintu kamar. Ia langsung memeluk dengan tangis yang pecah seketika. Seisi rumah hanya diam menyaksikan.
“Maafkan Nok, Ang,” gadis itu berkata sembari terisak, “karena Nok, Aang jadi begini. Aang jauh-jauh ke Losari hanya untuk menemui Nok, tapi sepulangnya jadi begini.”
Air mata si gadis semakin deras membasahi dada Ardhi. Ardhi bangkit dan menatap wajah si gadis. Tangan kanannya menyeka air mata yang mengalir di pipi gadis itu.
“Ini bukan salahmu, Nok Aya. Tegarkan hatimu. Aku tahu kau perempuan tegar, perempuan hebat dan sempurna. Tak perlu menyesali apa yang telah terjadi. Semua terjadi karena kelalaian Aang sendiri. Aang meminjam motor untuk ke kota padahal belum cakap. Terlebih berbonceng tiga. Syukurlah Aang hanya patah pergelangan tangan, kejadian lebih parah menimpa teman-teman Aang.”
Isak Nok Aya sedikit mereda. Kebisuan seisi rumah mulai mencair. Justru Ardhi penasaran, siapa yang memberikan kabar kecelakaan itu kepada gadisnya?
***
Ardhi menatap anak laki-laki sebayanya yang tampak lusuh. Baju seragamnya hampir tak kelihatan lagi warna putihnya, bahkan cenderung abu-abu atau kecoklatan. Tanah di tempat tinggal Suheri, nama anak laki-laki itu, berdebu dan hitam. Pun air sumurnya kecoklatan khas air tanah di pesisir Losari. Sebagai seorang sahabat, Ardhi kerap mengunjungi Suheri di Kalimati, sebuah desa kecil di perbatasan antara Cirebon dan Brebes.
Satu yang berbeda dari kunjungannya kali itu adalah, memori masa kecil kembali menyeruak di kepala Ardhi sepulang dari rumah Suheri.
***
Ardhi dan Nok Aya pernah bertetangga di salah satu desa di kecamatan Jamblang, Cirebon. Persahabatan orang tua mereka yang berlangsung sejak lama, membuat muda-mudi itu juga ikut berbagi suka-duka masing-masing. Kedua ibu mereka tak sungkan bertukar cerita, terlebih ketika mengetahui mereka hamil dan akan melahirkan di saat yang hampir bersamaan. Tentang usia kehamilan, keluhan sakit sepanjang masa kehamilan, perubahan ukuran perut, hingga menebak-nebak jenis kelamin bayi yang mereka kandung. USG belum masuki kampong mereka.
Kebahagiaan dua keluarga semakin lengkap setelah dua bocah mungil itu lahir. 11 Desember tujuh belas tahun lalu, Ardhi lahir. Hanya berselang beberapa jam, 12 Desember, Nok Aya lahir. Ditengah kehangatan dua keluarga itu pula, Ardhi dan Nok Aya tumbuh bersama. Penuh cinta kasih dan kebahagiaan. Meski tak ada hubungan darah, Ardhi menganggap Nok Aya lebih dari adiknya. Mereka seolah ditakdirkan selalu bersama.
Hingga suatu ketika, mereka terpisah karena harus melanjutkan pendidikan. Ardhi ke SMP (dulu SLTP) Negeri, Nok Aya ke MTs. Takdir seolah memperlebar jarak mereka. Keduanya semakin jarang bertemu. Satu-satunya kesempatan hanyalah saat Maghrib hingga Isya, mereka berdua salat berjamaah dan belajar mengaji di masjid desa tak jauh dari rumah mereka. Namun, kabar perjodohan mereka akhirnya tersiar bahkan sebelum yang dijodohkan tahu.
“Nak, dulu saat sama-sama mengandung, aku dan ibu Nok Aya pernah sama-sama berjanji. Jika kalian lahir sejodoh laki-laki dan perempuan, kami sepakat menikahkan kalian saat sudah dewasa. Namun, jika sama-sama laki-laki atau perempuan, kalian harus menjadi saudara layaknya saudara kandung,” cerita ibu Ardhi.
Baragkali beberapa cerita cinta memang tak hanya membutuhkan kebiasaan. Yang jelas, sejak cerita ibu Ardhi, benih-benih perasaan sebagai kekasih mulai tumbuh di hati keduanya. Juga takut akan kehilangan dan rindu dendam. Hampir setiap malam, mereka kembali semakin sering bertemu. Saat belajar mengaji, membahas PR, atau hanya sekedar mengobrol di teras rumah.
***
“Ang, besok keluarga Nok pindah ke Losari,”kata Nok Aya malam itu membuat Ardhi terperangah.
“Kok mendadak begitu, ada apa?”
“Di sana orang tua Nok akan memulai usaha baru, berdagang di pasar Losari.”
“Apakah Nok akan selamanya di sana?”
Nok Aya tak segera menjawab. Ada jeda sekian menit, lengkap dengan raut muka Nok yang berubah. Matanya lembab.
“Entahlah Ang. Mungkin setahun sekali, Nok akan ke Jamblang. Keluarga besar Nok kan masih di sini. Maafkan Nok ya, Ang.”
Bulan tinggal sepotong. Angin malam yang berhembus pelan menyapu wajah Ardhi yang tengah menahan perih yang entah. Setelah pamit, Ardhi melangkah gontai ke rumahnya. Takdir kembali mempermainkan hatinya. Perpisahan yang ini tak hanya perkara waktu tetapi juga jarak. Malam itu menjadi perpisahannya dengan Nok Aya.
***
Ardhi membongkar arsip dokumennya, mencari petunjuk keberadaan Nok Aya. Sejak malam itu hingga ia kini di SMK, Ardhi tak pernah berkomunikasi dengan Nok Aya.
Setelah dirasa cukup lengkap, Ardhi meminta Suheri mencari keberadaan Nok Aya di Losari. Hanya dengan berbekal nama dan ciri fisik yang diceritakan Ardhi, Suheri harus menelusuri sudut-sudut pasar. Namun, Ardhi tak salah memilih orang. Pasar Losari sudah menjadi keseharian Suheri karena di sanalah ia berbelanja kebutuhan dagang ibunya.
Suheri melihatnya sedang berjualan sandal dan sepatu di salah satu kios. Sejak pertemuan Suheri dengan Nok Aya itu, Ardhi aktif berkirim surat dengan Nok Aya. Keduanya merajut kembali kepingan-kepingan cerita dengan Suheri sebagai perantaranya. Berlembar-lembar surat, kumpulan puisi, bahkan cerita pendek Ardhi kirim kepada Nok Aya. Hingga suatu kesempatan, melalui surat pula, mereka membuat janji bertemu.
Takdir kembali berpihak pada suatu sore, 12 Desember 2000. Tepat di hari ulang tahun Nok Aya ke-17, mereka bertemu. Ardhi membawa kado ulang tahun istimewa, demikian pula dengan Nok Aya. Lebih dari itu, mereka membawa rindu berusia dua tahun lebih yang menuntut untuk segera dituntaskan. Namun, haru yang sempat menyusup itu harus berlalu begitu cepat. Secepat jingga di tepi barat cakrawala digantikan oleh gelap malam yang segera jadi pekat.
“Ang, Nok ijin pulang ya. Sekali lagi maafkan Nok. Hati-hati di jalan ya, Ang.”
Ardhi mengangguk. Ada rasa takut selepas kepergian Nok Aya seolah ini adalah pertemuan terakhir mereka. Ardhi singgah di sebuah masjid saat perjalanan pulang. Ia gelar sajadah di salah satu sudut dan bermunajat.
“Rabbi, aku bersyukur karena Engkau telah pertemukan kami kembali. Izinkanlah kami bertemu kembali meski hanya sekali.”
Air mata berlinang. Ia tak sanggup lagi meneruskan kata-katanya. Tak terasa, ia sudah terlelap di masjid itu hingga fajar. Lalu berniat berangkat ke sekolah dengan mengendarai sepeda motor naas itu.
***
Dua tahun berlalu. Rumah di Jamblang yang lebih dari lima tahun tak pernah Nok Aya kunjungi, sore itu ramai dengan keluarga besar yang tengah berdoa bersama. Lantunan ayat suci terdengar. Ardhi bergegas menuju rumah itu dan melihat Nok Aya terbaring di hadapannya. Ia tampak sangat letih. Nafasnya sangat pelan. Badannya tak bergerak sedikit pun. Hanya kelopak matanya yang terlihat sesekali menutup. Ardhi tahu, dalam diam, Nok Aya sedang tersenyum kepadanya sambil menahan sakratulmaut. Kali ini, takdir berkata tegas. Doa Ardhi di sebuah masjid sebelum kecelakaan itu, dijawab dengan leukimia yang merenggut nafas Nok Aya.
***
Aang = bahasa Cirebon, panggilan untuk “kakak” baik laki-laki maupun perempuan. Beberapa daerah di Cirebon mengkhususkannya untuk laki-laki.
Nok = bahasa Cirebon, panggilan untuk anak perempuan. Seperti “nduk” dalam bahasa Jawa, atau “neng” dalam bahasa Sunda.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh birokreasi 
 
Copyright © 2021 Pradirwan and OddThemes