BREAKING NEWS

Menulis Cerita yang Bernilai Berita

Menulis Cerita yang Bernilai Berita

Cara Menulis Berita


Pradirwan - Pada umumnya orang menyukai cerita. Melalui cerita, informasi maupun pesan yang terkandung dalam cerita tersebut dapat disampaikan kepada orang lain. Ada cerita yang berdasarkan kejadian nyata (fakta), ada pula yang rekaan (fiksi). Cara bercerita pun beragam. Bercerita dapat secara lisan, menggunakan gambar, ataupun tulisan.

Sebenarnya menulis beritapun seperti halnya kita bercerita kepada orang lain. Hanya saja, apa-apa yang kita ceritakan merupakan sebuah fakta, bukan opini. Bisa dibilang, berita merupakan suatu upaya untuk bercerita, menerangkan, atau menyampaikan informasi tentang suatu peristiwa/kejadian dalam bentuk tertulis.

baca juga: Tips Agar Siaran Pers Ditayangkan Media Massa

Perlu diingat, dasar dari sebuah berita adalah konflik/masalah/kasus. Tak semua peristiwa itu penting dan tidak semua peristiwa penting akan menarik bagi publik. Seorang pewarta yang baik akan memperhatikan nilai berita untuk menakar tulisannya.

Nilai berita merupakan nilai yang dikandung sebuah berita dan menjadi tolok ukur kelayakan sebuah peristiwa untuk dijadikan berita.

Biasanya pewarta akan menulis berita mengikuti peristiwa-peristiwa hangat yang sedang menjadi perbincangan publik atau banyak orang. Dengan kata lain, peristiwa bisa diangkat menjadi berita ketika memiliki nilai berita yaitu aktual, faktual, penting, dan menarik.

Informasi yang bernilai berita memiliki lima kriteria yaitu bisa dipertanggung jawabkan, memiliki urgensi untuk dibaca, mengurai atau menjabarkan konflik, mudah tersebar alias tidak eksklusif, dan berdampak terhadap penerima informasi.

Baca juga:  Jurnalis itu Sejarawan

Ada 11 nilai berita yang dapat kita jadikan acuan dalam menulis berita:

1. Magnitude (berpengaruh luas). Suatu berita bagi masyarakat berpengaruh luas atau tidak (magnitude) akan menentukan berita tersebut bernilai atau tidak. Contohnya berita tentang bencana alam di suatu daerah atau kebijakan pajak di suatu Negara akan lebih bernilai dibandingkan berita peresmian taman di tingkat desa. Kebijakan perubahan tarif atau objek pajak akan lebih bernilai daripada kecelakaan motor pengendara motor biasa.

2. Proximity (kedekatan geografis atau kedekatan psikologis). Kedekatan suatu berita dengan pembacanya (Proximity) akan memengaruhi ketertarikan masyarakat terhadap suatu berita. Contohnya berita tentang kebakaran di Bandung, tentu akan lebih menarik bagi orang-orang yang tinggal di Bandung daripada bagi penduduk di Yogyakarta.

3. Aktual. Berita akan jauh lebih menarik perhatian masyarakat ketika isi berita tersebut masih hangat dibicarakan, belum lama/sedang terjadi (aktual). Semakin aktual sebuah berita, semakin tinggi pula nilai berita tersebut.

4. Dampak (Impact). Seberapa besar dampak (impact) suatu kejadian, seberapa banyak orang yang terkena dampak, seberapa luas, seberapa lama pula dampak tersebut dirasakan. Semakin besar dampak dari suatu peristiwa, maka akan semakin tinggi pula nilai beritanya.

5. Keluarbiasaan (Unusualness). Sesuatu yang unik, aneh, dan tidak biasa (unusualness) tentu akan lebih menarik banyak perhatian dibanding hal yang umum terjadi. Misalnya berita tentang sebuah pohon pisang yang memiliki dua jantung pisang.

6. Ketokohan. Berita mengenai seorang tokoh/figur publik seperti artis, kepala negara/daerah, ilmuwan, atau seseorang yang dianggap sebagai pahlawan merupakan berita yang bernilai. Semakin terkenal sesorang maka beritanya akan semakin bernilai.

7. Kemanusiaan. Berita mengenai kemanusiaan selalu menimbulkan ketertarikan masyarakat (human interest). Berita dengan nilai kemanusiaan mampu menyentuh perasaan pembacanya. Nilai kemanusiaan biasanya terletak pada perbedaan dari seorang individu atau kelompok individu dibandingkan masyarakat umum.

8. Kejutan. Peristiwa yang mengejutkan atau tidak disangka – sangka (suprising) merupakan sebuah berita yang bernilai.

9. Konflik. Konflik selalu terjadi dalam kehidupan manusia dan akan selalu mengundang ketertarikan manusia. Semakin besar konflik yang terjadi maka akan semakin bernilai berita.

10. Novelty (kebaruan). Masyarakat menyukai hal-hal yang terbaru. Sebagai contoh berita tentang presiden yang baru dilantik, walikota yang baru diangkat, artis yang baru melahirkan, peluncuran aplikasi baru, semua itu merupakan peristiwa bernilai berita.

11. Informasi Kuantitatif yang miliki nilai substantif. Informasi dalam berita sangat penting, berita harus memberikan informasi yang jelas dan dapat dipercaya bagi pembacanya. Informasi dapat menghilangkan ketidakpastian yang terjadi di masyarakat. Data statistik tentang kinerja institusi yang harus/boleh dipublikasikan dapat menjadi substansinya.

Setelah kita menentukan nilai berita, proses selanjutnya adalah pencarian informasi. Kita bisa melakukannya melalui wawancara, observasi, atau melihat tinjauan pustaka/dokumentasi. Dalam proses ini, perlu dilakukan pencatatan hal-hal penting berkenaan dengan berita yang akan ditulis.

Suatu berita dapat dikatakan baik jika dapat menjawab unsur-unsur yang terdapat dalam 5W+1H (What, Where, When, Who, Why, How) serta mengikuti kaidah P3SPS (Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran) yang dibuat pemerintah.

Selain itu, kita harus memahami struktur penulisan berita. Pada umumnya, struktur penulisan berita (hard news) menggunakan piramida terbalik. Struktur ini mengisyaratkan kita untuk meletakkan isi terpenting di bagian paling awal tulisan (leads). Bagaimana kita membuat leads akan menentukan pembaca menyelesaikan membaca tulisan kita atau tidak. (HP)

Artikel terkait:

Share this:

Post a Comment

 
Copyright © 2021 Pradirwan and OddThemes